Nama lain: Atypical Tuberculosis, Fish Tuberculosis, Fish TB, Piscine tuberculosis
Etiologi/ penyebab:
Mycobacterium marinum, M.fortuitum, M. chelonae. Bakteri ini merupakan bakteri gram positif, berbentuk batang, tahan asam, tidak berspora [1,3]
Hospes :
Pada ikan hias ditemukan pada anggota sygnathids (kuda laut). Ikan family anabatidae (betta dan gurame hias), characidae (tetra), cyprinidae (barb, danios, koi, dan ikan mas), beberapa cichlidae (angelfish tawar) rentan terhadap infeksi mycobacterium[6]. Jahnel dalam Rehulka et al (2006) menyebutkan bahwa mycobacterium ditemukan pada spesies black tetra (Gymnocorymbus ternetzi), pearl danio (Danio albolineatus), spottedsail barb (Puntius phutunio), malabar danio (Devario malabaricus), Egyptian mouth-brooder (Pseudocrenilabrus multicolor multicolor), bloodfin tetra (Aphyocharax anisitsi), dwarf gourami (Colisa lalia) dan genus Xiphophorus[7]. Outbreak mycobacterium pernah terjadi pada fancy veiltail guppies (Lebistes reticulatus). Mycobacteriosis juga pernah ditemukan pada ikan zebra (Brachydanio rerio)[4]
Stadium rentan : -
Epizootiologi:
Pertama kali penyakit ini ditemukan pada ikan carp pada tahun 1897 namun tercatat pada lebih dari 167 spesies ika air tawar, ikan liar, dan ikan budidaya [3]. Penyakit ini dapat ditularkan secara langsung melalui makanan, remah-remah yang terkontaminasi [1]. Bakteri juga dapat menginvasi melalui kulit yang luka, jaringan insang, tanah, air, dan melalui transovarian (penularan secara vertikal). [2]. Penyakit bersifat kronis- subakut [5]. Tingkat infeksi dalam suatu populasi dapat bervariasi dari 10-100% [1]. Perbedaan tingkat kejadian mycobacterium pada ikan hias disebabkan perbedaan predisposisi atau faktor pemicu terhadap infeksi dan perbedaan kerentanan terhadap perlakuan faktor eksternal [7]. Penularan utama dari mycobacterium adalah melalui ingesti atau memakan ikan lain yang terinfeksi. Rute lain penularan adlaah melalui kulit yang luka. Mycobacterium juga pernah terdeteksi pada embrio ikan vivipar dan ditularkan secara transovarian [4]. Mycobacterium dapat masuk ke lingkungan akuarium diduga berasal dari air dimana terdapat insidensi mycobacterium yang tinggi pada air minum dan permukaan air. Mycobacterium juga dapat masuk dari eksternal seperti dari ikan-ikan eksotik yang jarang ditemukan di lokal [8]
Faktor pendukung
Kondisi lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri ini antara lain kondisi berawa, kadar oksigen rendah, kadar pH rendah, TOM tinggi, salinitas rendah dan air yang hangat. Mineral zinc dan besi juga dikaitkan dengan peningkatan mycobacterium di lingkungan [5]
Gejala Klinis:
Pada ikan guppy gejala yang terlihat seperti lemah, emasiasi, tubuh membengkok, mata menonjol, serta kehilangan warna tubuh [4]
Perubahan patologi
Pada ikan guppy mycobacterium terdeteksi pada smear ginjal, hati, mesenterium, dan limpa dari ikan. Pada ikan dengan gejala klinis, bakteri dapat ditemukan di feses. Pada ikan zebra, terdapat ulcerasi pada sisi tubuh dari sirip caudal hingga pectoral. Insang menjadi hiperemi, petechiae di sekitar operculum, pembengkakan tubuh, emasiasi, kongesti hati dengan peradangan serta nekrosis fokal hati [4]. Studi yang dilakukan oleh Majeed et al( 1981) pada ikan mas koki, kolisa, dan angel fish menemukan perubahan patologi berupa tuberkel yang mengeras tanpa giant cell dan leukosit eosinophil. Disamping itu juga terlihat adanya hilangnya pigmen. Kalsifikasi pada tuberkel juga dapat ditemukan [6].
Diagnosa banding
-
Metode Diagnosa
Diagnosa presumptive didasarkan pada penemuan granuloma saat nekropsi. Sangat memungkinkan untuk melakukan wet mount untuk melihat granuloma. Wet mount dapat dilakukan pada organ hati, limpa, ginjal. Pewarnaan tahan asam dapat langsung diaplikasikan pada jaringan terduga infeksi bakteri [5]. Meskipun granuloma merupakan ciri spesifik dari mycobacterium pada beberapa kasus pewarnaan tahan asam dari granuloma tidak dapat menunjukkan keberadaan mycobacterium. Dalam Lescenko et al (2003) dijelaskan bahwa pembentukan granuloma juga dapat terjadi pasca infeksi bakteri genus Nocardia. Isolat Streptococcus iniae dapat juga ditemukan dari ikan bergranuloma. Amuba dan fungi (Ichthyoponus hoferi dan Aphanomyces invadans) juga pernah teridentifikasi dari lesi bergranuloma. Kegagalan mengidentifikasi mycobacterium dari granuloma dapat disebabkan oleh mycobacterium yang telah hancur atau jumlahnya yang sedikit sehingga tidak terdeteksi secara mikroskopis [4]. Diagnosa pasti dilakukan di laboratorium secara histopatologi dan mikrobiologi [5]. Isolasi pada media dapat menggunakan ogawa / Lowenstein Jensen, TSA-BHIA [2]. Metode imunohistokimia juga telah digunakan untuk mendiagnosa mycobacterium pada banyak kasus. Kemungkinan deteksi langsung dan identifikasi DDNA mycobacterium menggunakan biologi molekuler juga telah diujikan dengan tingkat kesuksesan bervariasi [4].
Dampak
Mycobacteriosis mendapatkan banyak perhatian karena menimbulkan kematian yang bersifat kronis dengan tingkat kematian rendah-sedang secara terus menerus, sulitnya mendapatkan obat, dan sifat yang zoonosis [1]
Pencegahan dan Pengendalian
Pengobatan sangat sulit dilakukan kecuali dengan memusnahkan serta melakukan disinfeksi secara seksama [1]. Pencegahan termasuk sanitasi berperan penting dalam mengontrol infeksi. Dibutuhkan modifikasi material fisik dan kimia air apabila tidak sesuai bagi ikan. Penanganan dengan suhu tinggi jangka panjang harus dihindari dan pakan dioptimalisasi baik komponen lemak ataupun proteinnya. Spesimen terduga harus dibuang dan sebelum pengisian kembali, dinding didesinfeksi menggunakan chlorseptol (disinfektan berbahan chloramine). Gastropoda air tawar dapat menjadi vektor yang bertahan di dasar akuarium selama beberapa hari. Oleh karenanya disarankan untuk mengganti pasir dan tanaman dalam kolam/ akuarium [7].
Referensi
[1] Irianto, A. 2005. Patologi Ikan Teleostei. Gadjah Mada Press: Yogyakarta
[2] Lio-Po. G.D. dan Inui, Y. 2014. Health Management in Aquaculture Second Edition. Southeast Asian Fisheries Development Center, Aquaculture Department
[3] Rodger, H.D. 2010. 2010 Fish Disease Manual. Marine Institute
[4]. Lescenko, P., Matlova, L., Dvorska,L., Bartos, M., Vavra, O., Navratil, S., Novotny, L., Pavlik, I. 2003. Mycobacterial infection in aquarium fish. Vet. Med. – Czech, 48, 2003 (3): 71–78
[5] Floyd, R.F., Dipl, Yanong, R. 1999. Mycobacteriosis in Fish. University of Florida
[6] Majeed, S.K., Gopinath, C., Jolly, D.W. 1981. Pathology of spontaneous tuberculosis and pseudotuberculosis in fish. Journal of Fish Diseases 1981, 4, 507-512.
[7] Rehulka, J., Kaustova, J., Rehulkova, E. 2006. Causal Agents of Mycobacterial Diseases in Freshwater Ornamental Fish and their Importance for Human Health in the Czech Republic. ACTA VET. BRNO 2006, 75: 251–258
[8] Beran, V., L Matlova, L Dvorska, P Svastova, I Pavlik. 2006. Distribution of mycobacteria in clinically healthy ornamental fish and their aquarium environment. Journal of Fish Diseases 2006, 29, 383–393
No comments:
Post a Comment